Helm
Kepala Menjadi Helm Leher
Namaku Rena. Aku sekolah di SMK
Farmasi CandraNaya. Di sekolah aku mempunyai 4 orang teman dekat yang bernama
Anisah, Eva, Puja, dan Shela. Pada saat itu kami sedang asik belajar kimia,
tiba-tiba terdengar bunyi bel pulang sekolah. Aku dan teman-teman kelasku
segera bersiap-siap untuk pulang. Aku dan ke empat teman dekatku pulang sekolah
bersama. Kami menuju ke parkiran untuk mengambil motor. Namun Anisah, Puja, dan
Shela tidak bisa pulang sekolah bersamaku karena mereka ingin sholat terlebih
dahulu. Berhubung aku dan Eva sedang berhalangan, kami tidak ikut sholat di
sekolah, kami pulang lebih dahulu.
Aku dan Eva pun segera berangkat
untuk pulang, kami mengendarai motor masing-masing. Seperjalanan pulang,
tiba-tiba motor Eva mendekatiku lalu berkata “ Ren, helmnya udah kenceng belum?
Kalo belum kencengin dulu takut terbang. “ “ Udahlah gausah va, tenang aja”,
jawabku dengan percaya diri. Lalu kita melanjutkan perjalanan pulang. Kami
melewati jalan fly over dan aku sama sekali belum pernah lewat fly over
tersebut tapi sudah melaju kecepatan kencang karena ingin cepat sampai rumah.
Di
tengah fly over, saat motorku berlaju cepat, angina berhembus sangat kencang
tapi aku terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya
tibatiba bunyi hembusan angin yang kencang menuju helmku, hussssss. Ternyata
helmku jatuh ke belakang, ini namanya helm untuk leher bukan untuk kepala
lagi. Aku kaget dan langsung aku
meminggirkan motorku. Eva yang masih di belakangku seperti menahan tertawa
seolah-olah meledekku. “Kenapa ren ?” eva bertanya sambil menahan ketawa. Aku
dengan wajah memerah karena menahan malu karena banyak orang yang melihat
kejadian itu, aku hanya bisa terdiam saja sambil memakai helmnya dengan benar
kembali.
Tak
lama kemudian, Anisah, Puja dan Shela lewat fly over. Mereka langsung
menghampiri aku dan Eva yang sedang berhenti di pinggir fly over. “ Loh kalian
kenapa berhenti di sini ?” Shela bertanya kebingungan. Dengan wajah yang
tertunduk aku menjawab “ tadi helmku ketiup angin jadi kebalik deh ke
belakang”.
Wajah
mereka yang awalnya tegang, seketika tergantikan dengan tawa yang secara tidak
langsung mengejekku juga. “ Hahahaha itu serius? Lucu banget ya coba tadi aku
liat hahaha” Puja menetertawakan dengan penuh gembira. Wajahku semakin memerah
karena sudah cukup malu aku. Lalu Eva memotong percakapan “ tadi sih dibilangin
suruh dikencengin helmnya malah gam au. Jadi begini kan hahahaha”. “Sudah
terlalu lama kita berhenti di pinggir fly over, nanti dimarahin sama orang loh.
Pulang aja yuk udah sore” ajak Anisah.
Akhirnya
kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Seperjalanan aku tak bisa berhenti
memikirkan kejadian memalukan tadi. Sesampainya aku di rumah, aku langsung
menceritakan kejadian memalukan itu pada ayah dan ibuku. Mereka menertawakanku
juga dan menasihatiku untuk lebih hati-hati dalam berkendara dan dengarkan
nasihat orang lain selagi nasihat itu benar. Dengan penuh penyelasan, aku
berfikir “ andai saja aku mendengarkan nasihat Eva, mungkin kejadian memalukan
itu tak akan pernah terjadi”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar